Andai Bung Hatta Ada Disini

 

Surat Untuk Bung Hatta

Andai Bung Hatta Ada Disini

14 Maret 1980 Tuhan memanggil mu bung Hatta, Tuhan ingin memelukmu lebih dekat. Bapak proklamator yang telah banyak berjasa bagi bangsa Indonesia. Yang dari tangan dan keringatmu lahir harapan-harapan yang indah bagi bangsa.

Masih jelas di benak, pertama aku mengenal bung Hatta adalah sebagai salah satu pendiri bangsa bersama Ir. Soekarno, namun seiring berjalannya waktu aku lebih banyak mengenalmu sebagai bapak koperasi. Memperhatikan mekanisme kerja koperasi yang memiliki semangat gotong royong dan kekeluargaan sudah menjadi dasar ekonomi yang sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia.

Biasanya aku menemukan banyak sekali koperasi-koperasi di pedesaan, kini bangunan itu hanya tersisa puing-puingnya saja. Jika bangunan itu masih gagah, tak jarang didapati hanya papan tulis dengan ruangan yang berdebu. Di desa ku seperti itu bung, rakyatmu sudah tidak lagi menghidupkan napas-napas koperasi. Padahal dulu waktu usia ku 10 tahun, warga desa masih berbondong-bondong meramaikan bangunan itu, ada penjaganya yang siap sedia di meja paling depan koperasi.

Aku tidak tahu apa reaksimu jika tahu bahwa Indonesia kini sudah jauh meninggalkan azaz koperasi, kapitalisme merajalela bahkan jiwa pancasila sudah banyak tercecer habis-habisan. Terpukau dengan iming-iming berlian yang sebenarnya adalah semu.

Jangankan koperasi, pancasila pun semangatnya kini sudah mulai pudar. Sekitar tahun 2013 dalam acara stasiun televisi seorang anggota DPR tidak hafal pancasila, mungkin saja ia tidak melewati jenjang Sekolah Dasar. Sesungguhnya sebagai anak bangsa, aku merasa malu mengakuinya. Namun, inilah yang terjadi, sesuatu yang sudah tersistem sehingga ruang gerak menjadi tidak bebas. Ya bung Hatta, keadaan tidak akan begitu rumit andai engkau ada disini

Koperasi yang tidak hanya terbaik menurutmu dan sebagian orang namun aku sangat meyakini dan setuju pula dengan pendapatmu. Ini seharusnya seperti membangun komunitas-komunitas bisnis yang beranggotakan orang yang memiliki jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi, bersama-sama membangun kerajaan bisnis yang tidak hanya dapat anggotanya sendiri yang merasakan namun juga lingkungan  disekitarnya.

Komunitas ini tidak lain adalah koperasi yang bisa saja kita menggunakan nama lain namun tetap berpegang pada azas koperasi, sehingga koperasi tidak hanya dapat menyentuh kalangan orang-orang tua tetapi bisa menjadi sahabat bagi kalangan muda.

Saat ini koperasi sepertinya lebih dikenal dengan organisasi untuk orang-orang tua dan tidak anak muda banget. Padahal dulu engkau membuat ini untuk dapat menyentuh segala lapisan masyarakat.

Memang tidaklah mudah untuk membuat suatu sistem bila manusia yang satu dengan manusia yang lainnya sangatlah apatis dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Bahkan sering sekali mereka tidak memikirkan keselamatannya sendiri. Padahal tagline dari koperasi adalah soko guru perekonomian yang ini dapat diartikan sebagai penggerak perekonomian negara.

Saya sedang membayangkan Bung, jika semua sendi kehidupan menerapkan koperasi kepada para pengusaha-pengusaha yang mau untuk bergerak peduli secara nyata, tentu Indonesia akan semakin kuat. Tidak seperti dewasa ini yang bangga dengan produk-produk impor, menganggap bahwa produk dalam negeri tidak memiliki kualitas sebaik kualitas yang dibuat oleh luar negeri. Karena tanpa pernah sadar bahwa produk-produk kita telah banyak dikonsumsi di negera-negara lain.

Keberanian harus ditumbuhkan bersama, meskipun pemimpin bangsa dan para petinggi dengan gayanya seolah mempertegas bahwa azaz koperasi sudah  ketinggalan zaman. Mari kita patahkan sikap mereka !

Anak-anak bangsa kini lupa bung, darimana berasal, dari apa kenyamanan dan keamanan saat ini dapat tercipta. Bukan dengan bersyukur dan berkontribusi malah memperkaya diri sendiri tanpa melihat apa yang berada disekelilingnya, padahal itu begitu dekat.

Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, sehingga akhirnya bukan saja susah memiliki tempat tinggal namun juga sulit untuk dapat makan dan bertahan dari ancaman kematian setiap harinya

Gaya hidup yang cenderung kebarat-baratan membuat gaya hidup masyakat menjadi tinggi, dengan gaya hidup konsumtif dijadikan sebagai gaya hidup diri.

Engkau pasti tertawa bung, dimana orang yang bergaji minimum regional bergaya hidup bak artis Hollywood. Tak peduli dengan keuangan yang sebenarnya, gengsi hidup yang lebih diutamakan. Terlebih lagi apapun yang dilakukan kadang tidak sesuai dengan kemampuan diri, cenderung memaksakan.

Aku takut, sebagian dari kami telah lupa bahwa kebersahajaan yang paling utama diatas segalanya. Sama juga seperti raga yang batinnya kosong, begitu hampa lalu sebagian dari kita bertanya dalam diri,

“Apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ?Tidak kah saya sudah memiliki apapun yang saya mau, namun mengapa saya terus bertanya apa yang sebenarnya saya  cari?” Pertanyaan-pertanyaan diatas terus mengganggu dalam pikiran bagi banyak orang.

Sebenarnya yang kita perlukan adalah kepedulian kepada sesama, dampak yang kita berikan kepada orang lain akan otomatis memberikan dampak yang baik untuk diri kita sendiri.

Jika membicarakan tentang gaya hidup dan ekonomi tentu Bung Hatta adalah tokoh yang banyak memberikan pengaruh kepada Indonesia. Mengingat cerita-ceritamu luar biasa .  Bisakah kami mengikuti jejak langkahmu? Tumbuh menjadi seorang yang sangat bersahaja, setinggi apapun jabatan yang diraih dan sebanyak apapun harta yang dimilliki. Sungguh tidak ada yang lebih romantis daripada apa yang telah engkau lakukan.

Rasanya jika dirimu ada disini, semua tidak akan seperti ini. Seperti layaknya kebun yang tandus yang tidak ada air, seperti kering kerontang tanpa dialiri oleh air yang segar dan tanpa adanya pengairan yang sejauh mata memandang begitu sejuk di mata.

Tiba-tiba Aku teringat dengan kisahmu lewat cerita ajudanmu bahwa pada tahun 1970 engkau yang saat itu bukan lagi menjabat sebagai wakil presiden beserta rombongan berkunjung ke Irian Jaya papua, tempat dimana dirimu pernah diasingkan .

Saat itu utusan dari negara memberikanmu uang saku perjalanan selama di Irian Jaya, namun engkau menolak dan berkata itu adalah uang milik rakyat, meskipun sudah berkali-kali diberitahukan bahwa uang saku perjalanan memang sudah menjadi tanggungan negara sehingga sudah dianggarkan. Bung Hatta Bung Hatta, dirimu tetap bersikeras menolak dengan alasan itu adalah uang rakyat dan harus dikembalikan kepada rakyat.

Setelah berkunjung, lantas uang yang semula untuk biaya perjalanan dengan rombongan, kemudian diberikan kepada pemuka masyarakat setempat untuk kesejahteraan mereka “ini uang yang berasal dari rakyat dan sudah kembali ke tangan rakyat”

Kadang aku sulit memahami betapa aku mengagumi mu, bung.

Kalau aku boleh jujur, engkau adalah salah satu idola setelah nabi Muhammad SAW. Semakin banyak aku mencari tahu semua tentangmu semakin aku merasa, kemana saja aku dahulu belum bisa lebih dekat denganmu. Problem lagi yang terjadi bahwa kita belum banyak tahu tentang pahlawan-pahlawan dan tokoh yang seharusnya menjadi panutan hidup kita.

Yang namanya remaja dan pemuda, tentu masih minim pengetahuan dan masih butuh sosok yang dapat diteladani. Meskipun kau tidak lagi bersama kami disini namun kami yakin apa yang kau lakukan adalah sesuatu yang dapat memberikan pencerahan bagi kami yang masih muda ini untuk terus berkarya nyata.

Andai kau ada disini, akan semakin banyak lagi anak muda yang memiliki semangat luar biasa sepertimu.

 

This entry was posted in Bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>